Senin, 14 Januari 2013

CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) DAN BIOLOGICAL OXYGEN DEMAN (BOD)


CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD) DAN BIOLOGICAL OXYGEN DEMAN (BOD)
A. CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD)
          Chemical Oxygen Demand (COD) atau kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) adalah jumlah oksigen (mg.O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent)
          Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang secara ilmiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air.
          Analisa COD berbeda dengan analisa BOD namun perb :andingan antara angka COD dengan angka BOD dapat ditetapkan.
Perbandingan rata-rata angka BOD dan COD untuk beberapa jenis air
Jenis air
BOD5/ COD
Air buangan domestik
0,40-0,60
Air buangan domestik setelah pengendapan primer
0,60
Air buangan domestik setelah pengolahan secara biologis
0,20
Air sungai
0,10

B. BIOLOGICAL OXYGEN DEMAN (BOD)
          Biological Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi dalam air. Angka BOD adalah jumlah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasi) hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagian zat-zat organis yang tersuspensi dalam air.
          Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri, dan untuk mendesain sistem-sistem pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. Penguraian zat organis adalah peristiwa alamiah: kalau, sesuatu badan air dicemari oleh zat organis, bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut, dalam air selama proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air dan keadaan menjadi anaerobik dan dapat menimbulkan bau busuk pada air tersebut.
          Jenis bakteri yang mampu mengoksidasi zat organis “biasa”, yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan air buangan penduduk, berada pada umumnya di setiap air alam. Jumlah bakteri ini tidak banyak di air jernih dan di air buangan industri yang mengandung zat organis. Untuk oksidasi/penguraian zat organis yang khas, terutama di beberapa jenis air buangan industri yang mengandung misalnya fenol, detergen, minyak dan sebagainya. Bakteri harus di berikan “waktu penyesuaian” (adaptasi) beberapa hari melalui kontak dengan air buangan tersebut, sebelum dapat digunakan sebagai benih pada analisa BOD air tersebut.
          Sebaliknya beberapa zat organis meupun inorganis dapat bersifat racun terhadap bakteri (misalnya sianida, tembaga, dan sebagainya) dan harus dikurangi sampai batas yang diinginkan. Derajat keracunan ini juga dapat diperkirakan melalui analisa BOD.

PRATIKUM ANALISIS AIR
A.   Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah menentukan kadar COD dan BOD dalam air limbah.

B.   Teori Dasar
Kehidupan mikroorganisme, seperti ikan dan hewan air lainnya, tidak terlepas dari kandungan oksigen yang terlarut di dalam air, tidak berbeda dengan manusia dan mahluk hidup lainnya yang ada di darat, yang juga memerlukan oksigen dari udara agar tetap dapat bertahan. Air yang tidak mengandung oksigen tidak dapat memberikan kehidupan bagi mikro organisme, ikan dan hewan air lainnya. Oksigen yang terlarut di dalam air sangat penting artinya bagi kehidupan.
Untuk memenuhi kehidupannya, manusia tidak hanya tergantung pada makanan yang berasal dari daratan saja (beras, gandum, sayuran, buah, daging, dll), akan tetapi juga tergantung pada makanan yang berasal dari air (ikan, kerang, cumi-cumi, rumput laut, dll).
Tanaman yang ada di dalam air, dengan bantuan sinar matahari, melakukan fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Oksigen yang dihasilkan dari fotosintesis ini akan larut di dalam air. Selain dari itu, oksigen yang ada di udara dapat juga masuk ke dalam air melalui proses difusi yag secara lambat menembus permukaan air. Konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air tergantung pada tingkat kejenuhan air itu sendiri. Kejenuhan air dapat disebabkan oleh koloidal yang melayang di dalam air oleh jumlah larutan limbah yang terlarut di dalam air. Selain dari itu suhu air juga mempengaruhi konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air. Tekanan udara dapat pula mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air. Tekanan udara dapat pula mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air karena tekanan udara mempengaruhi kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air.
Kemajuan industri dan teknologi seringkali berdampak pula terhadap keadaan air lingkungan, baik air sungai, air laut, air danau maupun air tanah. Dampak ini disebabkan oleh adanya pencemaran air yang disebabkan oleh berbagai hal seperti yang telah diuraikan di muka. Salah satu cara untuk menilai seberapa jauh air lingkungan telah tercemar adalah dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air.
Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah. Hal itu karena oksigen yang terlarut di dalam air diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi bahan buangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (yang ditandai dengan bau busuk). Selain dari itu, bahan buangan organik juga dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air organik yang ada di dalam air, makin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya. Bahan buangan organik biasanya berasal dari industri kertas, industri penyamakan kulit, industri pengolahan bahan makanan (seperti industri pemotongan daging, industri pengalengan ikan, industri pembekuan udang, industri roti, industri susu, industri keju dan mentega), bahan buangan limbah rumah tangga, bahan buangan limbah pertanian, kotoran hewan dan kotoran manusia dan lain sebagainya.
Dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air dapat ditentukan seberapa jauh tingkat pencemaran air lingkungan telah terjadi. Cara yang ditempuh untuk maksud tersebut adalah dengan uji :
1.     COD, singkatan dari Chemical Oxygen Demand, atau kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air.
2.     BOD singkatan dari Biological Oxygen Demand, atau kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh mikroorganisme.
Melalui kedua cara tersebut dapat ditentukan tingkat pencemaran air lingkungan. Perbedaan dari kedua cara uji oksigen yang terlarut di dalam air tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut ini.
chemical oxygen demand adalah kapasitas air untuk menggunakan oksigen selama peruraian senyawa organik terlarut dan mengoksidasi senyawa anorganik seperti amonia dan nitrit.
biological (biochemical) oxygen demand adalah kuantitas oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme aerob dalam menguraikan senyawa organik terlarut. jika BOD tinggi maka dissolved oxygen (DO) menurun karena oksigen yang terlarut tersebut digunakan oleh bakteri. akibatnya ikan dan organisme air
hubungan keduanya adalah sama-sama untuk menentukan kualitas air, tapi BOD lebih cenderung ke arah cemaran organik..
Dalam proses penanganan air limbah biologis dengan sistem aerobik, oksigen menjadi penting untuk penurunan kadar BOD dan COD yang efektif.
Tingkat Oksigen terlarut yang Positif harus dipertahankan dalam pabrik penanganan biologis aerobik untuk memungkinkan biomass mencernakan BOD dan COD secara optimal. Pada saat aerasi biasa digunakan, oksigen dengan tingkat kemurnian yang tinggi menawarkan lebih banyak oksigen tingkat tinggi dan penurunan kadar COD daripada sistem aerasi yang konvensional.
Proses Oxy Dep Air Products telah dikembangkan untuk menggunakan oksigen dalam proses pengaliran pelumas yang diaktifkan (ASP) dalam bentuk yang efisien. Penggunaan oksigen Oxy-Dep atau proses hibridasi udara oksigen secara luar biasa telah meningkatkan kapasitas ASP untuk pemindahan kontaminasi.

C.  Prosedur percobaan
a. Alat dan Bahan
          1. Alat:
                   Pipet gondok
                   Erlenmeyer 250 ml
                   Erlenmeyer tutup asah 250 ml
                   Buret 50 ml
                   Penangas air
                   Pipet tetes
                   Botol semprot
                   Gelas ukur
          2. Bahan:
                   Sampel limbah air
                   MnSO4 10 %
                   H2SO4 pekat
                   Natrium Thiosulfat  0.1 N
                   Natrium thiosulfat 0.05 N
                   Larutan kanji 2 %
                   KMnO4  0.1 N
                   H2SO4 6 M
                   KI 10 %
                   Larutan alkali azida
                   Aquades
b. Prosedur kerja
Ø Pengujian COD

1.     Pipet 50 ml larutan sampel ke dalam Erlenmeyer 250 ml
2.     Tambahkan 5 ml KMnO4 ) 0.1 N/ K2Cr2O7 dan panaskan selama satu jam dalam penangas air.
3.     Didnginkan selama 10 menit, tambahkan larutan KI 10% dan 10 ml H2SO4 6 M
4.     Titrasi dengan larutan thiosulfat 0.05 N sampai warna kuning, tambah 1- 2 ml indicator kanji sampai timbul warna biru dan lanjutkan titrasi sampai warana biru hilang
5.     Lakukan hal yang sama terhadap blanko
Ø  Pengujian BOD
1.     Pipet 100 ml sampel kedalam larutan Erlenmeyer tutup asah, tambahkan 1ml MnSO4 dan 1 ml larutan alkali azida.
2.     Tutup sampel dan kocok dengan membolak- balikkan botol beberapa kali
3.     Biarkan hingga terbentuk endapan setengah bagian
4.     Buka tutup sampel dan panaskan dalam H2SO4 pekat melalui dinding botol,kemudian tutup botol kembali
5.     Kocok kembali sampai endapan melarut
6.     Titrasi larutan dengan natrium thiosulfat 0.1N sampai berwarna kuning muda, tambahkan 1-2 ml indicator kanji sampai warna biru dan lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang.
Perhitungan kadar COD dalam sampel
COD =        b= blanko
                                                             s = sampel
COD =  = 204.8
D. Pembahasan
          Praktikan melakukan percobaan untuk menentukan kandungan COD dalam sampel air limbah yang disediakan..Kandungan COD merupakan kandungan bahan pencemar berupa senyawa kimia yang menyerap oksigen terlarut (DO) dalam air yang digunakan untuk keperluan oksidasi dan mengubahnya menjadi bentuk senyawa lain. Dengan tingginya kadar bahan kimia yang menyerap oksigen terlarut dalam air dapat menyebabkan biota-biota yang hidup dalam air seperti ikan dan hewan lainnya mengalami kekurangan oksigen, yang akan berakibat menurunkan daya hidup biota tersebut. Kadar pencemaran itu karena adanya banyak limbah organic dan limbah anorganik yang dibuang keperairan. Satndar mutu air tersebut diukur dengan angka parameter dalm satuan mg/L. dengan indeks baik (I),sedang (II),kurang (III), dan kurang sekali (1V). Untuk COD masing-masing berturut-turut 20,100,300 dan 500. Sedangkan untuk BOD 40,200,500,dan 1000.
          Sampel yang praktikan amati pertama diberi pelarut KMnO4 dan memanaskannya selama setengah jam dalam penagas,larutan berwarna ungu. Selanjutnya didinginkan dan ditambah larutan KI dan H2SO4 warna larutan menjadi coklat dan selanjutnya dititer dengan Natrium thiosulfat, titrasi dihentikan setelah indicator kanji berwarna biru hilang. Volume pentiter didapat 9.2 sedangkan blangko di dapat 16,5. Setelah dilakukan perhitungan terhadap kandungan COD dengan rumus di dapat kandungan COD dalam sampel air yang diberikan adalah 204,8 mg/L.
Melihat data indeks dari hasil perhitungan tersebut di dapat bahwa mutu dari kandungan COD yang diberikan dalam sampel adalah kurang. Berarti sampel air yang diberikan kurang berkualitas. Ditandai banyaknya zat kimia yang menggunakan oksigen untuk meguraikan suatu senyawa kimia yang terdapat dalam sampel air limbah tersebut.

E. Kesimpulan
          Dari percobaan yang praktikan lakukan untuk menentukan kualitas air dilihat dari kandungan COD yang dapat disimpulkan bahwa sampel air yang diberikan untuk di uji mutunya,kualitas air tersebut kurang. Ini dapat mempengaruhi kehidupan organisme yang terdapat dalam air tersebut akan mengalami hambatan pertumbuhan karena kurangnya oksigen terlarut. Dan juga dapat diperhatikan bahwa sampel yang diberikan mengandung banyak bahan kimia yang akan menyerap oksigen terlarut.

Tahap pertama dilakukan menggunakan pendekatan rangkaian pengukuran BOD dalam rentang waktu tertentu pada suhu tertentu. Sejalan dengan pengukuran BOD, dilakukan penentuan kandungan nutrien anorganik (amonia, nitrit, nitrat, dan ortofosfat) sebagai hasil akhir proses dekomposisi. Dengan demikian akan diperoleh gambaran hubungan antara penurunan keberadaan bahan organik dengan peningkatan kandungan nutrien anorganik selama pengamatan.
Bahan organik yang digunakan dalam praktikum ini adalah bahan organik yang mudah terurai, yaitu kotoran ayam. Besarnya kandungan bahan organik yang dikandung dalam air dengan pemberian dosis kotoran ayam tertentu ditentukan berdasarkan nilai COD. Berdasarkan nilai COD tersebut dilakukan penentuan nilai BOD dalam air yang mengandung bahan organik tersebut.

2. Penentuan BOD
Alat: satu seri botol BOD yang terdiri dari enam botol, alat untuk analisis DO
Bahan: larutan bahan organik yang dipilih, reagen untuk analisis DO
Prosedur:
1.     Siapkan larutan bahan organik dengan dosis yang telah ditentukan
2.     Lakukan pengenceran sesuai dengan kandungan BOD yang terukur
3.     Lakukan pengukuran BOD0
4.     Tempatkan larutan bahan organik yang telah diencerkan ke dalam kelima botol BOD yang telah disiapkan
5.     Simpan kelima botol BOD ke dalam inkubator dengan suhu 30°C
6.     Lakukan pengukuran BOD setelah diinkubasi selama 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 hari, atau BOD1, BOD2, BOD3, BOD4, BOD5, dan BOD6

3. Penentuan kandungan nutrien anorganik
Alat: satu seri botol gelas yang terdiri dari enam botol untuk penentuan kandungan nutrien hari ke 1, 2, 3, 4, 5, dan 6
Bahan: larutan bahan organik dan reagen untuk keperluan pengukuran nutrien
Prosedur:
1.     Siapkan larutan bahan organik yang telah diencerkan serta wadah aebanyak 6 buah.
2.     Lakukan pengukuran kandungan amonia, bitrit, nitrat, dan ortofosfat

II. Teknis pelaksanaan:
1.     Pengukuran COD dilakukan pada hari Kamis, 18 Februari 2010 terhadap tiga air sampel larutan dengan tiga dosis bahan organik
2.     Percobaan mengenai dekomposisi dimulai pada hari Senin, 22 Februari 2010 untuk mendapatkan nilai BOD0, dilanjutkan dengan pengukuran serupa untuk sampel berikutnya pada hari Selasa hingga Minggu (BOD1-BOD6)
3.     Pengukuran nutrien anorganik (amonia, nitrit, nitrat, dan ortofosfat) dilakukan bersamaan waktunya dengan pengukuran BOD1-BOD6.
4.     Bila kegiatan pengukuran tidak bisa dilakukan pada hari pengamatan yang dimaksudkan karena kesibukan akademik yang tidak bisa diganggu, maka air sampel harus mendapat perlakuan tertentu untuk mengurangi bias hasil pengukuran, yaitu melakukan proses fiksasi untuk BOD, dan menyimpan sampel pada suhu 4°C

III. Tugas:
1.     Penentuan nilai BOD awal berdasarkan nilai COD yang terukur dari ketiga sampel larutan dengan dosis bahan organik berbeda yang diuji.
Terdapat banyak rumus yang dapat digunakan untuk memperoleh nilai BOD berdasarkan nilai COD yang terukur. Dalam praktikum ini digunakan rumus sebagai berikut.
BOD = 0,64 COD
2.     Membuat grafik hubungan antara nilai BOD dengan waktu pengamatan
3.     Membuat grafik hubungan antara nilai kandungan nutrien (amonia, nitrit, nitrat, dan ortofosfat) dengan waktu pengamatan

Nilai k (konstanta reaksi (per hari) dibutuhkan dalam perhitungan BOD5 untuk mendapatkank nilai L (nilai BOD pada waktu ke t). Uji ini digunakan untuk mengukur BOD dengan waktu kontinyu dalam sampel yang sama. Pengukuran mungkin memiliki nilai BOD yang bervariasi setiap waktu :

Jika diasumsikan dy/dt mewakili kemiringan kurva pada semua data, dapat dilakukan penentuan nilai k dan L,
Kemudian gunakan notasi y’ untuk dy/dt :
Substitusikan a untuk kL dan –b untuk k :
Jika persamaan digabung dalam satu set dengan angka kuadrat sisa R dari persamaan, maka persamaan menjadi:

Keterangan n = jumlah data
a= -bL
b=-k(base e)
L=-a/b
y=yt, mg/L


Contoh perhitungan dari BOD konstan yang digunakan berdasarkan konsep the least square di metode Fujimoto. Dengan memperhitungkan nilai L dan k dalam metode the last-squares dan metode Fujimoto untuk mengetahui nilai BOD dari data yang diperoleh pada metode tersebut.
t, d
2
4
6
8
10
Y, mg/L
11
18
22
24
26

Solusi :
1.
Waktu
Y
y2
y’
yy’
2
11
121
4,50
49,5
4
18
324
2,75
49,5
6
22
484
1,50
33,0
8
24
576
1,00
24,0
75
1.505
9,75
156,0

Dari data di atas,

2. Substitusikan angka yang didapat berdasarkan percobaan pada langkah pertama dari persamaan

3. Defisinisikan nilai k dan L


4.     Grafik BODt vs BODt+1









BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme  (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991).  Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic matter).  Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai.  Dari pengertian-pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan.
Selain waktu analisis yang lama, kelemahan dari penentuan BOD lainnya adalah (Metcalf & Eddy, 1991): diperlukannya benih bakteri (seed) yang teraklimatisasi dan aktif dalam konsentrasi yang tinggi; diperlukan perlakuan pendahuluan tertentu bila perairan diindikasi mengandung bahan toksik; dan efek atau pengaruh dari organisme nitrifikasi (nitrifying organism) harus dikurangi.  Meskipun ada kelemahan-kelemahan tersebut, BOD tetap digunakan sampai sekarang.  Hal ini menurut  Metcalf & Eddy (1991) karena beberapa alasan, terutama dalam hubungannya dengan pengolahan air limbah, yaitu
(1)  BOD penting untuk mengetahui perkiraan jumlah oksigen yang akan diperlukan untuk menstabilkan bahan organik yang ada secara biologi;
(2)  untuk mengetahui ukuran fasilitas unit pengolahan limbah;
(3)  untuk mengukur efisiensi suatu proses perlakuan dalam pengolahan limbah; dan
(4)  untuk mengetahui kesesuaiannya dengan batasan yang diperbolehkan bagi pembuangan air limbah.
Karena nampaknya BOD akan tetap digunakan sampai beberapa waktu mendatang, maka penting untuk mengetahui sebanyak mungkin mengenai cara   10 penentuannya berikut segala keterbatasan atau kelemahannya.
Sedangkan COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air (Boyd, 1990).  Hal ini karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat (Boyd, 1990; Metcalf & Eddy, 1991), sehingga segala macam bahan organik, baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi. Dengan demikian, selisih nilai antara COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit urai yang ada di perairan.  Bisa saja nilai BOD sama dengan COD, tetapi BOD tidak bias lebih besar dari COD.  Jadi COD menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.
Metode pengukuran BOD dan COD
Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana, yaitu mengukur kandungan oksigen terlarut awal (DOi) dari sampel segera setelah pengambilan contoh, kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20oC) yang sering disebut dengan DO5.  Selisih  DOi  dan DO5 (DOi – DO5) merupakan nilai BOD yang dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg/L).  Pengukuran oksigen dapat dilakukan secara analitik dengan cara titrasi (metode Winkler, iodometri) atau dengan menggunakan alat yang disebut DO meter yang dilengkapi dengan probe khusus.  Jadi pada prinsipnya dalam kondisi gelap, agar tidak terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen, dan dalam suhu yang tetap selamalimahari, diharapkan hanya terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganime, sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen, dan oksigen tersisa ditera sebagai DO5. Yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah mengupayakan agar masih ada oksigen tersisa pada pengamatan hari kelima sehingga DO5 tidak nol.  Bila DO5 nol maka nilai BOD tidak dapat ditentukan.
Pada prakteknya, pengukuran BOD memerlukan kecermatan tertentu mengingat kondisi sampel atau perairan yang sangat bervariasi, sehingga kemungkinan diperlukan penetralan pH, pengenceran, aerasi, atau penambahan populasi bakteri.  Pengenceran dan/atau aerasi diperlukan agar masih cukup tersisa oksigen pada hari kelima. Secara rinci metode pengukuran BOD diuraikan dalam APHA (1989), Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991) atau referensi mengenai analisis air lainnya.
Karena melibatkan mikroorganisme (bakteri) sebagai pengurai bahan organik, maka analisis BOD memang cukup memerlukan waktu.  Oksidasi biokimia adalah proses yang lambat.  Dalam waktu 20 hari, oksidasi bahan organik karbon mencapai 95 – 99 %, dan dalam waktu 5 hari sekitar 60 – 70 % bahan organik telah terdekomposisi (Metcalf & Eddy, 1991).Limahari inkubasi adalah kesepakatan umum dalam penentuan BOD.  Bisa saja BOD ditentukan dengan menggunakan waktu inkubasi yang berbeda, asalkan dengan menyebut-  4kanlama waktu tersebut dalam nilai yang dilaporkan (misal BOD7, BOD10) agar tidak salah dalam interpretasi atau memperbandingkan. Temperatur 20 oC dalam inkubasi juga merupakan temperatur standard.  Temperatur 20 oC adalah nilai rata-rata temperatur sungai beraliran lambat di daerah beriklim sedang (Metcalf & Eddy, 1991) dimana teori BOD ini berasal.  Untuk daerah tropik sepertiIndonesia, bisa jadi temperatur inkubasi ini tidaklah tepat. Temperatur perairan tropik umumnya berkisar antara 25 – 30 oC, dengan temperatur inkubasi yang relatif lebih rendah bisa jadi aktivitas bakteri pengurai juga lebih rendah dan tidak optimal sebagaimana yang diharapkan. Ini adalah salah satu kelemahan lain BOD selain waktu penentuan yang lama tersebut.
Metode pengukuran COD sedikit lebih kompleks, karena menggunakan peralatan khusus reflux, penggunaan asam pekat, pemanasan, dan titrasi (APHA, 1989, Umaly dan Cuvin, 1988). Peralatan reflux (Gambar 1) diperlukan untuk menghindari berkurangnya air sampel karena pemanasan.  Pada prinsipnya pengukuran COD adalah penambahan sejumlah tertentu kalium bikromat (K2Cr2O7) sebagai oksidator  pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat, kemudian dipanaskan selama beberapa waktu.  Selanjutnya, kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara titrasi.  Dengan demikian kalium bikromat yang terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat ditentukan.  Kelemahannya, senyawa kompleks anorganik yang ada di perairan yang dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi (De Santo, 1978), sehingga dalam kasus-kasus tertentu nilai COD mungkin sedikit ‘over estimate’ untuk gambaran kandungan bahan organik. Bilamana nilai BOD baru dapat diketahui setelah waktu inkubasilimahari, maka nilai COD dapat segera diketahui setelah satu atau dua jam.  Walau- pun jumlah total bahan organik dapat diketahui melalui COD dengan waktu penentuan yang lebih cepat, nilai BOD masih tetap diperlukan.  Dengan mengetahui nilai BOD, akan diketahui proporsi jumlah bahan organik yang mudah urai (biodegradable), dan ini akan memberikan gambaran jumlah oksigen yang akan terpakai untuk dekomposisi di perairan dalam sepekan (limahari) mendatang.  Lalu dengan memperbandingkan nilai BOD terhadap COD  juga akan diketahui seberapa besar jumlah bahan-bahan organik yang lebih persisten yang ada di perairan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar