Kamis, 03 Oktober 2013

titrasi asam basa



1 TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini di harapkan mahasiswa mampu;
Ø  melakukan standardisasi untuk larutan asam kuat dan basa kuat
Ø  melakukan penentuan konsentrasi larutan dengan titrasi asam basa


2 PERINCIAN KERJA
·      Standardisasi larutan NaOH dengan KHP
· Standardisasi larutan HCl dengan Na2CO3
· Penentuan konsentrasi laruran CH3COOH dengan larutan std. NaOH
· Penentuan konsentrasi laruran NH4OH dengan larutan std. HCl
· Penentuan konsentrasi laruran H2SO4 dengan larutan std. NaOH
· Penentuan konsentrasi laruran NaOH dengan larutan std. HCl



3 DASAR TEORI

1.    Titrasi Asam Basa
        Titrasi asam basa merupakan titrasi yang didasarkan pada reaksi asam basa yang                  terjadi antara analit dan titran. Titrasi asam basa terdiridari titrasi antara;
Ø  Asam kuat dengan basa kuat
Ø  Asam kuat dengan basa lemah
Ø  Basa kuat dengan asam lemah

2.    Pereaksi Asam Basa
   Dalam praktikum di laboratorium adalah hal biasa untuk membuat dan menstandarisasi satu larutan asam dan satu larutan basa. Karena larutan asam lebih mudah diawetkan daripada larutan basa, maka suatu asamlah yang biasanya dipilih sebagai standar pembanding tetap yang lebih baik daripada basa.
Dalam memilih asam untuk di pakai dalam larutan standar, faktor-faktor berikut harus diperhatikan;
1.    Asam harus kuat yaitu terdisosiasi tinggi
2.    Asam tidak boleh mudah menguap
3.    Larutan asam harus stabil
4.    Garam dari asamnya harus larut
5.  Asamnya harus tidak merupakan suatu pereaksi oksidator yang kucup kuat untuk merusak senyawa-senyawa organic yang digunakan seperti indikator.

         Asam-asam klorida dan sulfat merupakan larutan asam yang paling luas digunakan sebagai larutan standar meskipun tidak satupun mencukupi  semua persyaratan di atas.garam klorida dari ion-ion perak, timbal dan merkuri(I) adalah larut, seperti halnya sulfat dari logam-logam alkali tanah dan timbal. Namun hal ini biasanya tidak menyebabkan kesukaran pada kebanyakan penggunaan titrasi asam basa. Hidrogen klorida merupakan gas tetapi tidak cukup menguap dari larutan-larutan pada batas-batas konsentrasi yang biasanya di pergunakan, karena terdisosiasi sangat tinggi dalam larutan air. Suatu larutan 0,5 N dapat dididihkan untuk beberapa lama tanpa kehilangan hydrogen klorida, jika larutannya tidak boleh dipekatkan dengan penguapan. Asam nitrat jarang digunakan, sebab merupakan pereaksi oksidasi kuat, dan larutannya terurai apabila dipanaskan atau dikenakan cahaya. Asam perklorat merupakan asam kuat tidak menguap dan stabil terhadap reduksi dalam larutan-larutan encer. Garam-garam kalium dan ammonium dapat mengendap dari larutan-larutan pekat apabila terbentuk selama titrasi. Asam perklorat lebih disukai dalam titrasi yang bukan air. Ia pada dasarnya suatu asam yang lebih kuat daripada asam klorida dan lebih kuat terdisosiasi dalam pelarut yang bersifat asam, seperti asam asetat murni.
          Natrium hidroksida merupakan basa yang paling umum digunakan. Kalium hidroksida tidak memberi keuntungan dibandingkan dengan natrium hidroksida dan lebih mahal. NaOH selalu terkontaminasi oleh jumlah kecil zat pengotor yang paling sering diantaranya adalah natrium karbonat.

3.    Indikator untuk Titrasi Asam Basa
        Indikator yang digunakan pada titrasi ini adalah indikator yang bekerja sesuai dengan perubahan pH paa larutan. Indikator asam basa merupakan suatu asam atau basa organic lemah yang bentuk tak terdisosiasinya berbeda warna dengan ionnya. Indikator ini akan berubah warna pada perubahan pH larutan yang menyebabkan indikator tersebut mengalami disosias.
         Indikator yang terkenal adalah fenolftalein. Indikator ini merupakan asam diprotik dan tak berwarna. Ia mula-mula terdisosiasi ke dalam suatu bentuk tak berwarna dan kemudian kehilangan hydrogen kedua, menjadi ion yang berwarna merah.
4.    Standardisasi larutan
        Standardisasi  adalah proses yang digunakan untuk menentukan secara teliti konsentrasi suatu larutan. Terdapat dua macam larutan standar yaitu standar primer dan standar sekunder. Standar primer biasanya dibuat dengan cara menimbang dengan teliti suatu solut kemudian melarutkannya kedalam volume larutan yang secara teliti diukur volumenya.
   Syarat-syarat dari standar primer adalah sebagai berikut;
1.    Murni jumlah pengotornya tidak lebih dari 0,01-0,02 %
2.    Stabil, tidak higroskopis, dan tidak mudah bereaksi dengan udara
3. Mempunyai berat ekivalen yang cukup tinggi untuk mengurangi kesalahan pada waktu     penimbangan.
        Larutan standar primer digunakan untuk menstandardisasi larutan standar sekunder, larutan std. Sekunder selanjutnya digunakan untuk penentuan suatu larutan atau cuplikan.
              Senyawa kalium hidrogen flatat KHC8H4O4(KHP) merupakan standar primer sangat baik untuk larutan-larutan basa. Senyawa ini mudah diperoleh dengan kemurnian 99,95% atau lebih. Zat ini stabil apabila dikeringkan, tidak higroskopis dan mempunyai berat ekivalen yang tinggi 204,2 g/ek. Merupakan asam monoprotik lemah, akan tetapi karena larutan basa biasanya sering digunakan untuk menetukan asam lemah, maka hal ini bukannya suatu kerugian. Indikator fenolftalein digunakan dalam titrasi dan larutan basanya harus bebas karbonat.
         Natrium karbonat Na2CO3 secara luas digunakan sebagai standar primer untuk larutan-larutan asam kuat. Mudah diperoleh dalam keadaan sangat murni, kecuali hadirnya sejumlah kecil natrium bikarbonat, NaHCO3. Bikarbonat dapat secara lengkap diubah menjadi karbonat dengan memanaskan zatnya hingga berat tetap pada 2700C sampai 3000C. Natrium karbonat sedikit higroskopis tetapi dapat ditimbang tanpa banyak kesulitan. Karbonat dapat dititrasi menjadi natrium bikarbonat dengan menggunakan fenolftalein, berat ekivalennya sama dengan berat molekulnya yaitu 106,0. Tetapi secara umum zat ini dititrasi menjadi asam karbonat dengan menggunakan indikator metil orange dengan berat ekivalen setengah dari berat molekulnya 53,00.

4 KESELAMATAN KERJA
      Gunakan peralatan keselamatan kerja seprti masker dan sarung tangan dalam menangani larutan asam pekat dan basa kuat. Lakukan pengenceran di dalam lemari asam dengan mengisi labu ukur dengan aquadest terlebih dahulu.


5 ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN
v Neraca analitis                            
v Kaca arloji                                                       2
v Erlenmeyer 250 ml                                         6
v Buret 50 ml                                                     4
v Pipet ukur 25 ml                                              4
v Gelas kimia 100 ml, 250 ml                            2
v Labu takar 100 ml, 250 ml                              4
v Spatula, pengaduk                                           8
v Bola karet                                                        4


6 BAHAN YANG DIGUNAKAN
Ø Larutan baku sekunder NaOH 1 N
Ø Larutan baku sekunder HCl 1 N
Ø Kalium hydrogen ftalat, KHC8H4O4 (KHP)
Ø Natrium karbonat, Na2CO3
Ø Etanol 95%
Ø Indikator fenolftalein
Ø Indikator metil merah
Ø Indikator metil orange/metil jingga
Ø Larutan H2SO4
Ø Larutan CH3COOH
Ø Larutan NH4OH
Ø Larutan NaOH


7 PROSEDUR PERCOBAAN
1.    Standardisasi larutan std sekunder NaOH dengan KHP
Ø Masukkan kira-kira 1 g KHP murni dalam botol timbang yang bersih dan keringkan dalam oven pada temperatur 1100C sekurang-kurangnya selama 1 jam.
Ø Dinginkan botol timbang beserta isinya dalam desikator.
Ø Timbang dengan teliti dalam 3 erlenmeyer bersih yang telah diberi nomor sebanyak 0,7 sampai 0,9 KHP.
Ø Pada tiap erlenmeyer tambahkan 50 ml air suling di ukur dengan gelas ukur dan kocok perlahan-lahan sampai KHP larut.
Ø Tambahkan 2 tetes indikator pp pada tiap erlenmeyer.
Ø Titrasi larutan dengan NaOH tang telah dibuat sampai berubah warna menjadi merah muda.
Ø Catat volume titran.

2. Standardisai larutan std sekunder HCl dengan Na2CO3
Ø Buatlah larutan yang mempunyai pH 4 dengan cara melarutkan 1 gr KHP dalam 100 ml air suling. Tambahkan 2 tetes metil jingga ke dalamnya.
Ø Larutan ini digunakan sebagai larutan pembanding
Ø Timbanglah dengan teliti 3 buah cuplikan dalam erlenmeyer masing-masing 0,2-0,25 g Na2CO3 murni yang sebelumnya telah dikeringkan.
Ø Larutkan dalam 50 ml air aquadest dan tambahkan 2 tetes metil jingga.
Ø Titrasi dengan HCl, sampai warnanya sama dengan larutan pembanding.
Ø Catat volume titran.

3. Penentuan konsentrasi larutan CH3COOH dengan larutan std. NaOH
Ø Pipet 10 ml cuplikan ke dalam erlenmeyer 250 ml.
Ø Tambahkan indikator pp
Ø Titrasi dengan NaOH sampai terjadi perubahan warna yang tetap.
Ø Ulangi untuk 3 kali percobaan.

4. Penentuan konsentrasi larutan NH4OH dengan larutan std. HCl
Ø Pipet 10 ml cuplikan ke dalam erlenmeyer 250 ml.
Ø Tambahkan indikator m.o
Ø Titrasi dengan HCl sampai terjadi perubahan warna yang tetap.
Ø Ulangi untuk 3 kali percobaan.
    
5.    Penentuan konsentrasi larutan H2SO4 dengan larutan std. NaOH
Ø Pipet 10 ml cuplikan ke dalam erlenmeyer 250 ml.
Ø Tambahkan indikator m.o
Ø Titrasi dengan NaOH sampai terjadi perubahan warna yang tetap.
Ø Ulangi untuk 3 kali percobaan.

6. Penentuan konsentrasi larutan NH4OH dengan larutan std. HCl
Ø Pipet 10 ml cuplikan ke dalam erlenmeyer 250 ml.
Ø Tambahkan indikator pp
Ø Titrasi dengan HCl sampai terjadi perubahan warna yang tetap.
Ø Ulangi untuk 3 kali percobaan.









8 DATA PENGAMATAN
NO Percobaan
VOLUME TITRAN
Stand NaOH dengan KHP
Stand HCl dengan Na2CO3
Konst CH3COOH dengan NaOH
Konst NH4OH dengan std HCl
Konst H2SO4 dengan NaOH
Konst NaOH dengan std HCl
1
11 ml
1,1 ml
4,6 ml
7,8 ml
8,9 ml
8,5 ml
2
11 ml
1,5 ml
5,1 ml
6,6 ml
9,5 ml
10,5 ml
3
11 ml
1,5 ml
5,0 ml
5,6 ml
9,2 ml
10,5 ml
Rata-rata
11 ml
1,36 ml
4,9 ml
6,66 ml
9,2 ml
9,83 ml


9 PERHITUNGAN
1.      Standardisai larutan std. Sekunder dengan NaOH dengan KHP
 = V  NaOH  N NaOH     
 =   N NaOH
NaOH = 0,35

2.      Standardisasi larutan HCl dengan Na2CO3
 = N HCl
N HCl = 0,5

3.      Konsentrasi larutan CH3COOH dengan larutan std NaOH
V CH3COOH  N CH3COOH = V NaOH  N NaOH
10 ml  N CH3COOH = 4,9 ml  1 N
N CH3COOH =
N CH3COOH = 0,49 ml

4.      Konsentrasi larutan NH4OH dengan larutan std HCl
V NH4OH N NH4OH = V HCl  N HCl
10 ml  N NH4OH =6,66 ml  1 N
N NH4OH =
N NH4OH = O,666 N

5.      Konsentrasi larutan H2SO4 dengan std NaOH
V H2SO4  N H2SO4 = V NaOH  N NaOH
10 ml  N H2SO4 = 9,2 ml  N NaOH
N H2SO4 =
N H2SO4 = 0,92 N

6.      Konsentrasi larutan NaOH dengan larutan std HCl
V NaOH  N NaOH = V HCl  N HCl
10 ml  N NaOH =9,83 ml  1 N
N NaOH =
N NaOH = 0,983 N




10 ANALISIS PERCOBAAN
       Pada percobaan ini dilakukan percobaan untuk mentitrasi asam basa dengan tujuan menstandardisasi asam kuat dan basa kuat, serta penentuan konsentrasi larutan dengan cara titrasi asam basa. Titrasi asam basa adalah titrasi yang di dasarkan pada reaksi asan basa yang terjadi antara analit dan titran. Dalam percobaan ini CH3COOH, NH4OH, dan H2SO4 merupakan analit dan larutan ini di titrasi dengan NaOH dan HCl yang merupakan titran. Titrasi asam basa terdiri dari antara asam kuat dan basa kuat, asam kuat dan basa lemah, dan basa kuat dan asam lemah. Dalam hal ini standardisasi diartikan sebagai proses yang digunakan untuk menentukan secara teliti konsentrasi suatu larutan.
       Pada percobaan menstandarisasi NaOH dengan KHP dengan berat KHP 0,7 gram, 0,8 gram, dan 0,9 gram didapatkan volume titrannya yaitu 11 ml dengan warna bening (sangat dilarutkan) dan merah muda setelah dititrasi dengan NaOH.
       Pada percobaan penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan HCl dengan volume NaOH yaitu 10 ml didapatkan volume titran untuk erlenmeyer adalah 9,83 ml, larutan CH3COOH dengan NaOH adalah 4,9 ml, larutan NH4OH dengan HCl adalah 6,66 ml, dan larutan H2SO4 dengan NaOH adalah 9,2 ml.

11 KESIMPULAN
Pada percobaan ini dapat disimpulkan bahwa;
ü  Menstandarisasi larutan NaOH dengan KHP dengan cara titrasi dengan NaOH didapatkan warna merah muda dan setelah dititrasi menjadi bening.
ü  Menstandarisasi larutan HCl dengan Na2CO3 dengan cara mentitrasi dengan HCl dapat   dibuktikan bahwa warna yang dihasilkan sama dengan warna dari larutan pembanding.
ü  Dalam penentuan konsentrasi larutan didapatkan;
          CH3COOH     =0,49 ml
          NH4OH          =0,666 ml
          H2SO4            =0,92 ml
          NaOH            =0,35 ml
          Na2CO3         =0,50 ml
ü  Standarisasi adalah proses yang digunakan untuk menetukan secara teliti konsentrasi suatu larutan.
12 DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet,2011 ”penuntun praktikum kimia analisis dasar” politeknik negeri sriwijaya.palembang.
13 PERTANYAAN
      1. Tuliskan 5 macam , standar primer untuk titrasi asam basa!
            Jawab;
ü  Kalium hidro ftalat KH8H4O4 atau KHP
ü  Asam sulfamat HSO3NH2
ü  Kalium hydrogen iodat KH(IO3)2
ü  Natrium karbonat Na2CO3
ü  Tris (hidroksimetil) aminometan (CH2OH)3 CNH2
2. Tuliskan 5 macam indikator untuk titrasi asam basa!
       Jawab;
ü  Indikator asam pikrat
ü  Indikator biru timol
ü  Indikator jingga metil
ü  Indikator kuning metil
ü  Indikator 2,6 dihidrofenol
3. Tuliskan 5 macam penerapan dari titrasi asam basa!
            Jawab;
ü  Standarisasi larutan NaOH dengan KHP
ü  Standarisasi larutan HCl dengan Na2CO3
ü  Penentuan konsentrasi larutan, H2SO4 dengan larutan std NaOH
ü  Penentuan konsentrasi larutan, NH4OH dengan larutan std HCl
ü  Penentuan konsentrasi larutan, CH3COOH dengan larutan std NaOH
 4. Suatu standar primer, kalium hydrogen ftalat (KHP) seberat 0,8426 gram dititrasi dengan        42,14 ml NaOH. Hitunglah normalitas larutan NaOH
     Jawab;    V NaOH  N NaOH
                    N NaOH

                 N NaOH  0,097 N

Tidak ada komentar:

Posting Komentar